Senin, 21 Mei 2012

Setelah Komputer Mac, Trojan Siap Serang iPhone dan iPad



BBC Indonesia
Ilustrasi
Kaspersky Lab menemukan bahwa keamanan sistem operasi Mac OS yang digunakan komputer Apple ternyata sangat rentan terkena serangan, antara lain dari penjahatcyber dan malware/trojan.

Selain komputer Mac, target penyerangan selanjutnya adalah iPhone dan iPad.

Hal tersebut  dilaporkan oleh CTO Kaspersky, Nikolai Grebennikov, setelah perusahaannya melakukan analisis mendalam terhadap Mac OS X, seperti dikutip Kompas.com dari Slashgear.

Grebennikov mengatakan bahwa Apple belum cukup serius dalam urusan sekuriti dan dia mengkritik kelambatan produsen iMac dan MacBook tersebut dalam merespon ancaman keamanan.

Lebih lanjut, Grebennikov mengatakan bahwa platform berikutnya yang akan menjadi target adalah iOS.

Menurutnya, malware yang menyerang iPhone dan iPad akan muncul dalam waktu dekat. "Belajar dari pengalaman, kami rasa iOS akan mulai diserang malware dalam waktu satu tahun ke depan," ujarnya.

Baru-baru ini sistem operasi Mac OS menjadi target para pembuat malware. Contoh kasus terbaru serangan terhadap platform milik Apple ini melibatkan trojan Flashback yang menginfeksi ratusan ribu komputer Mac.

Hingga saat ini, jumlah komputer dengan Mac OS yang terinfeksi trojan Flashback masih banyak, meskipun Apple sudah menyediakan dua patch yang bisa diunduh untuk mengenyahkan malware tersebut.
Sumber :

Laptop Tipis AMD Diklaim Bakal Lebih Terjangkau



laptoping.com
HP Sleekbook, salah satu laptop Ultrathin dengan prosesor AMD Trinity
Laptop super-tipis atau biasa disebut "ultrabook" memang menarik, tetapi juga cukup menguras kantong. Menanggapi hal tersebut, AMD mengambil langkah berbeda dengan menawarkan produk yang lebih murah dari kompetitor.

Seperti dilansir oleh Reuters, Chief Executive AMD Rory Read mengatakan bahwa Intel terlalu menganggap tinggi kesediaan konsumen untuk membayar mahal demi mendapat laptop kelas atas.

AMD berencana untuk menjual laptop tipis yang menggunakan chip Trinity buatannya  -yang disebut sebagai laptop "Ultrathin"- dengan harga kisaran US$ 600 atau sekitar 6 juta-an  rupiah. Angka tersebut kurang lebih sama dengan harga laptop konvensional yang berukuran tebal, dan jauh lebih murah dibandingkan Ultrabook.

Meskipun memiliki beberapa kelebihan seperti prosesor yang bertenaga dan bentuk tipis, Laptop dari jenis "Ultrabook" yang dipromosikan oleh Intel dipatok dengan harga cukup tinggi, mencapai kisaran belasan juta rupiah.

"Ini adalah sebuah kesempatan untuk mengambil keuntungan dari peluang yang diciptakan oleh orang  (kompetitor) lain," ucap Read.
Lebih jauh, Read mengatakan bahwa Intel mematok harga yang terlalu tinggi untuk bisa meraih angka 40% dari seluruh volume penjualan laptop, seperti yang ditargetkan oleh raksasa chip tersebut bagi ultrabook. "Peluang justru ada di pasar mainstream," tandasnya.

Ultrabook adalah istilah yang digunakan Intel untuk menyebut jenis laptop super-tipis yang dilengkapi fitur-fitur kelas atas seperti cangkang berbahan metal dan Solid State Disk.


Sumber :
AFP, REUTERS

AMD Trinity Vs Intel Ivy Bridge, Mana Lebih Kencang?




widescreen.dpiq.org
Nuansa persaingan di ranah komputer jinjing atau laptop semakin kental setelah AMD merilis prosesor mobile seri A-10 yang dikenal dengan kode nama "Trinity".

Beberapa situs teknologi telah membandingkan prosesor untuk laptop tipis AMD "Ultrathin" ini dengan tawaran sejenis dari Intel, populer dipanggil "Ivy Bridge", yang digunakan pada laptop tipis "Ultrabook".

Seperti yang dilaporkan oleh PCWorld, hasil perbandingan kedua prosesor untuk laptop tipis itu ternyata cukup beragam.

Dari sisi kinerja keseluruhan, tampaknya Trinity belum bisa menyamai Ivy Bridge. Seperti bisa  dilihat dari grafik di bawah yang diambil dari situs Anandtech.com, andalan AMD ini tertinggal cukup jauh, bahkan jika dibandingkan dengan jagoan Intel sebelumnya, "Sandy Bridge".

Dalam grafik, tampak Ivy Bridge (Core i7-3720QM pada laptop Asus N56VM) memduduki posisi teratas. Meski demikian, Trinity masih lebih kencang dari pendahulunya, prosesor AMD seri A-8 yang dikenal dengan nama "Llano".

amd_test2
Trinity bersinar ketika dipakai untuk main game. Dalam hal ini, GPU Radeon seri HD 7000 yang tertanam di dalamnya berhasil mengalahkan pemroses grafis Intel HD 4000 pada Ivy Bridge sehingga Trinity mampu menjalankan game dengan lebih mulus.

amd_test
Secara keseluruhan Trinity lebih kencang sekitar 20 persen dibandingkan Ivy Bridge ketika dipakai bermain game, berdasarkan pengujian terhadap 15 judul game di atas.

Soal daya tahan baterai, menurut situs Anandtech, Trinity (A-10 4600M, Quad Core) sanggup bertahan  selama hampir 7 jam ketika dipakai berselancar di internet.

Angka tersebut cukup bagus dan lebih baik dari pendahulunya, Llano, yang mencatat angka 6 jam, serta Ivy Bridge (Core i7-3720QM, Quad Core) yang membukukan 5 jam.

Jadi, mana yang lebih baik? Tergantung kebutuhan. Untuk mereka yang menginginkan kinerja maksimal, laptop tipis dengan prosesor Intel Corei7 (Ivy Bridge) tidak tertandingi.

Akan tetapi, bagi penggemar game atau mereka  yang membutuhkan daya tahan baterai yang tinggi, laptop tipis dengan prosesor AMD seri A-10 (Trinity) bisa menjadi pilihan menarik. 
Sumber :

Kamis, 17 Mei 2012

Kenapa Prosesor Ivy Bridge Kepanasan Saat "Dipaksa"?



Geek.com
Inti prosesor Ivy Bridge (kiri) dihubungkan dengan heatspreader panas oleh pasta penghantar panas
Prosesor baru seri "Ivy Bridge" besutan Intel disebut mengeluarkan panas berlebih yang tak wajar, hingga beda 20 derajat Celcius, saat di-overclock (dipaksa melebihi kemampuan aslinya).

Hal ini diungkap oleh PC Watch yang melakukan pengujian terhadap prosesor terbaru dari Intel ini.

Selain itu, mereka juga berhasil menemukan penyebab panas berlebih tersebut, yaitu kemungkinan berasal dari materi penghantar panas (thermal paste) yang digunakan di dalam prosesor.

Seperti dikutip dari Geek.com, Intel memakai sejenis pasta penghantar panas untuk menempelkan inti prosesor dengan kepingan penyebar panas (heat spreader) di atasnya. Teknik ini dimaksudkan untuk memperluas permukaan sehingga proses pelepasan panas bisa lebih optimal.

Akan tetapi, karena memiliki konduktivitas yang rendah, pasta penghantar ini justru menghambat pelepasan panas.

Prosesor Intel seri sebelumnya, "Sandy Bridge" dihubungkan dengan kepingan penyebar panas melalui solder fluxless yang memiliki konduktvitas lebih tinggi dibandingkan pasta penghantar panas.

Perbedaan jenis materi ini ditengarai bisa menyebabkan perbedaan temperatur hingga 20 derajat Celcius di antara kedua seri prosesor tersebut ketika dipaksa bekerja melampaui batasnya dengan teknik overclocking.

Ketika pasta penghantar panas Ivy Bridge coba diganti dengan pasta penghantar yang lebih berkualitas, situs teknologi PC Watch melaporkan terjadi penurunan suhu antara 18-23 persen.

Namun, suhu tinggi Ivy Bridge ini hanya akan muncul apabila prosesor dipaksa berjalan lebih kencang melalui teknik overclocking. Pada kondisi normal untuk pemakaian sehari-hari, panas Ivy Bridge tidak melampaui batas aman.

"Ivy Bridge" adalah seri prosesor terkini dari raksasa mikrochip Intel. Salah satu prosesor yang termasuk dalam seri ini adalah Core i7-3770K.

"Ivy Bridge" dibuat dengan proses fabrikasi 22 nanometer dan memiliki kinerja lebih tinggi dibanding pendahulunya.

Proses fabrikasi yang lebih kecil tersebut memungkinkan Intel menanam 1,4 milyar transistor pada inti prosesor Ivy Bridge yang berukuran hanya 160 mm persegi.
Sumber :

Eee PC 1025CE, Netbook dengan "Instan On" dan USB 3.0



Asus Eee PC 1025C
Asus semakin gencar bermain di ranah komputer jinjing mini alias netbook. Awal tahun 2012, Asus menambah jajaran produk netbook-nya dengan menghadirkan 3 varian baru seri Flaire di Indonesia, meliputi Flare Series Eee PC 1025C, Eee PC 1025CE dan Eee PC 1225C.

Tim Kompas Tekno pun berkesempatan menjajal produk Asus Eee PC 1025CE Flaire Series. Netbook ini digunakan untuk bekerja selama kurang lebih dua minggu.

Bagaimana performa Eee PC 1025CE? Berikut ulasannya.

Desain dan bobot

Asus cukup berani dalam mendesain jajaran Flaire Series karena produk-produk ini diberikan warna-warna terang. Eee PC 1025CE yang dijajal Kompas Tekno berwarna merah muda, cukup memikat mata orang-orang yang melirik ketika digunakan di keramaian.

.
Warna silver pada tombol-tombol keyboard masih serasi jika dipadankan dengan warna merah muda. Namun, bezel berwarna hitam pekat dan memiliki gestur garis-garis yang mengelilingi layar nampaknya sedikit mengurangi "kecantikan" netbook ini.

Untuk urusan slot dan port, Eee PC 1025CE terbilang lengkap. Di sisi kanan netbook tersedia port ethernet LAN RJ45, 2 port USB 2.0, jack audio 3,5mm dan slot memori eksternal SD card.

..
Di sisi kiri, ada port untuk pengisi daya baterai, port HDMI, dan sebuah port USB 3.0. Dengan USB 3.0, proses transfer data akan lebih cepat 10 kali lipat dibandingkan USB 2.0, secara teori.

Netbook yang memiliki bentang layar 10 inci ini memiliki bobot 1,25kg, tidak terlalu ringan dan tidak terlalu berat untuk dibawa ke mana saja. Alat pengisi daya baterai (charger) didesain ringkas, adaptor dan kabel power-nya menyatu sehingga tidak membuat sesak isi tas.

Tiga fitur unggulan

Prosesor Intel Atom N2800

Fitur unggulan pertama dari Eee PC 1025CE ada pada prosesor, yang menggunakan Intel Atom dual core N2800 dengan clock speed 1,86GHz. Ini merupakan prosesor Intel Atom generasi ketiga berkode nama Cedar Trail.

Dari pengalaman menggunakan netbook ini, Kompas Tekno menilai kecepatan dan performa grafis dari prosesor Cedar Trail memang terasa lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, Pine Trail.

Terlebih, Atom N2800 yang digunakan pada Eee PC 1025CE, saat ini merupakan prosesor dengan kasta tertinggi di keluarga Cedar Trail dengan kecepatan graphic processing unit (GPU) 640MHz.

Netbook ini siap digunakan untuk bekerja dengan dokumen, editing foto, browsingchatting, dan memainkan game-game ringan.

Instan On

Menyadari bahwa sekarang ini banyak produk komputer yang menggunakan hardware dengan spesifikasi dan kecepatan yang sama, maka Asus merasa harus memiliki diferensiasi pada produk terbarunya. Pabrikan asal Taiwan ini memperkaya Flaire Series, termasuk Eee PC 1025CE, dengan software Instant On.

Instant On memungkinkan produk netbook besutan Asus bisa langsung digunakan kembali dalam waktu 2 detik dari posisi sleep. Syaratnya, Anda harus menekan tombol power netbook ini.

Karena Instant On hanya bekerja saat netbook dalam modus sleep, maka teknologi ini tidak berpengaruh pada proses booting ketika netbook dinyalakan dari posisi mati.

Anytime USB charge

Anytime USB charge merupakan fitur yang memungkinkan pengguna mengisi daya bateraismartphone, tablet, atau alat pemutar musik digital dengan menancapkan kabel ke port USB Eee PC 1025CE. Anda tetap dapat mengisi daya baterai perangkat mobile dari netbook, sekalipun netbook tersebut dalam keadaan mati.

Namun, tidak semua port USB di Eee PC 1025CE memiliki fitur Anytime USB charge. Hanya portUSB 3.0 di sisi kiri sajalah yang memiliki fitur ini.

.
Daya tahan baterai

Pihak Intel dan Asus mengklaim, penggunaan prosesor Atom N2800 Cedar Trail membuat konsumsi daya baterai netbook ini bertahan 9 jam dalam pemakaian wajar. Ketika digunakan untuk berinternet ria menggunakan koneksi Wi-Fi, Eee PC 1025CE bertahan antara 4 sampai 5 jam.

Kesimpulan

Kelebihan
+ Kecepatan kerja prosesor
+ Performa grafis prosesor lebih baik dari generasi sebelumnya
+ Adanya fitur Anytime USB charge
+ Baterai tahan lama

Kekurangan
- Warna bezel yang mengelilingi layar mengurangi estetika netbook ini

.
Spesifikasi Asus Eee PC 1025CE Flaire Series

- Prosesor Intel Atom N2800 1,86GHz
- RAM 2GB DDR3
- Hard disk 320GB
- Layar 10.1 inci beresolusi 1024 x 600 piksel
- Sistem operasi Windows 7 Starter / DOS
- Speaker Altec Lansing
- Webcam 0,3MP
- Baterai 6-cell Li-ion 5200mAh
- Konektivitas 2 buah port USB 2.0, 1 buah USB 3,0, ethernet, VGA, HDMI, jack audio 3,5mm, slot SD card, bluetooth, serta  Wi-Fi.
- Harga Rp 2.890.000,-

Renji Abarai - Bleach 2
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting